Kamis, 21 Mei 2009

Makam Bangsawan Melayu

Makam atau kompleks makam dapat dikaji dari berbagai kajian. Ada yang mengkaji makam (terutama nisan makam) berdasarkan tipologi, keletakannya pada suatu bentang alam tertentu, letak geografis, dan bahan. Nisan makam di Indonesia berdasarkan atas tipologinya menurut Hasan Muarif Ambary (1984) dapat dibagi menjadi tipe Aceh, tipe Demak-Tralaya, tipe Bugis-Makassar, dan tipe Ternate-Tidore. Berdasarkan atas keletakannya, ada makam yang terletak di dataran rendah dan dataran tinggi. Sementara itu, berdasarkan atas letak geografinya, makam ada yang berada di daerah pesisir atau pantai dan pedalaman.

Makam dapat juga dikaji dari bahan baku penyusunnya. Berdasarkan data makam di Indonesia, bahan makam (terutama nisan) dapat dibagi menjadi: bahan kayu (jati, unglen, besi), batu (andesit, kapur, pasir, granit, marmer), dan logam (kuningan, perunggu) (Ambary,1998:18). Kebanyakan makam terbuat dari bahan kayu dan batu andesit atau batu kali. Tidak banyak bahan baku makam yang terbuat dari batu karang. Makam dari bahan batu karang inilah yang akan kita bahas dalam tulisan ini. Sebagai data diambil contoh makam yang terdapat di kompleks makam Bangsawan Melayu di Mentok, Pulau Bangka.

Makam di Mentok

Kompleks makam Bangsawan Melayu terdapat di sekitar benteng tanah Kota Seribu. Lokasi kompleks makam lebih tinggi dibanding dengan tanah di sekitarnya. Secara administratif, kompleks makam ini terletak di Desa Keramat, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Secara astronomis kompleks makam berada pada 03˚ 45’ 40,9’’ LS dan 102˚ 44’ 1,5’’ BT. Kompleks makam hanya berjarak sekitar ratusan meter dari pantai (Selat Bangka)

Di samping sebagai komleks makam Bangsawan Melayu, di sekitar kompleks makam ini dimanfaatkan juga sebagai makam umum. Tokoh-tokoh yang dimakamkan pada makam ini adalah Keluarga Siantan yang berjumlah delapan orang. Kedelapan tokoh tersebut adalah:

1. Abang Pahang (Datuk Tumenggung Dita Manggala),

2. Istri Abang Pahang,

3. Encik Wan Abdul Jabar (mertua Sultan Mahmud Badaruddin I),

4. Encik Wan Akup (saudara sepupu Sultan Mahmud Badaruddin I),

5. Encik Wan Serin (saudara sepupu Sultan Mahmud Badaruddin I),

6. Abang Ismail,

7. Abang Muhammad Tayib (anak Abang Ismail bergelar Kartawijaya), dan

8. Syekh Habib (utusan Sultan Palembang).

Dari kedelapan makam tersebut, terdapat dua (nisan) makam yang mempunyai tulisan Arab Melayu, yaitu makam Abang Pahang dan Abang Muhammad Tayib. Pada nisan makam bagian kepala (utara) Abang Pahang terdapat tulisan:



wafat kepada,

12 hari bulan,

Safar malam ahad,

1252.

Selanjutnya pada bagian kaki (selatan) terdapat tulisan:

datuk,

alamat,

pemegang buyut,

Bangka.



Arti semua tulisan tersebut “Wafat pada tanggal 12 bulan Syafar tahun 1252 Hijriah, yang dihormat Datuk Tumenggung Dita Manggala”. Nisan dihias dengan sulur-suluran dan jiratnya disusun berundak empat dan tidak memiliki hiasan. Ukuran jirat makam 217 x 77 cm.

Nisan bagian kepala (utara) makam Abang Muhammad Tayib pada salah satu sisinya terdapat tulisan Arab yang menyebut nama Abang Muhammad Tayib Kartawijaya, sedangkan ketiga sisi lainnya dihias dengan motif bunga. Nisan sebelah selatan (kaki) terdapat hiasan pada keempat sisinya.

Jirat dan nisan makam di kompleks makam ini banyak dibuat dari batu karang. Ragam hias nisan dan jirat berupa hiasan tulisan Arab, tumpal, sulur-suluran, dan garis-garis lengkung. Secara umum terdapat dua tipe nisan yang terdapat di kompleks makam Bangsawan Melayu, yaitu tipe Demak-Tralaya dan tipe Aceh beserta variasinya (Novita, 2001:17 -- 18).

Di Mentok juga terdapat kompleks makam lain, yaitu kompleks makam Hario Pakuningprang dan makam Belanda. Kedua makam tersebut terbuat dari batu granit dan marmer (Setyorini,1997: 20 -- 22).

C. Pembahasan

Adaptasi secara umum sering diartikan sebagai proses yang menghubungkan sistem budaya dengan lingkungannya (Kaplan,1999:112). Dalam arti lebih sempit adaptasi dapat ditafsirkan sebagai usaha manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Faktor lingkungan berperan penting dalam mengubah perilaku manusia. Salah satu bentuk penyesuaian manusia terhadap lingkungannya adalah usaha manusia untuk mencari bahan baku dalam membuat hasil budayanya. Makam adalah salah satu hasil budaya manusia yang berkembang pada masa islam.

Sebagai hasil budaya, dalam proses pembuatan makam tentunya harus memperhatikan beberapa faktor sebelum makam dibentuk. Di antara beberapa faktor tersebut antara lain kaidah-kaidah normatif Islam tentang pemakaman, dan bahan baku. Bahan baku makam sebagai salah satu faktor pembuatan makam tidak dapat dipisahkan dengan faktor lingkungan keberadaan makam.

Makam yang terdapat di daerah pantai atau dataran rendah kemungkinan tidak sama dengan yang terdapat di pedalaman atau dataran tinggi karena faktor lingkungannya juga berbeda. Bahan baku pembuatan makam (nisan) lebih cenderung memanfaatkan bahan baku yang tersedia di sekitarnya yang lebih dekat, dibanding dengan memanfaatkan bahan lain yang lebih jauh, meskipun mempunyai tingkat keawetan yang lebih tinggi. Makam di daerah pantai akan lebih banyak memanfaatkan bahan baku yang banyak terdapat di pantai, misalnya batu karang. Makam di dataran tinggi akan lebih banyak memanfaatkan batu andesit atau batu kali yang banyak tersedia di daerah tersebut. Makam di dataran rendah dan banyak terdapat pohon kayu, akan memanfaatkan kayu sebagai bahan baku.

Makam di kompleks makam Bangsawan Melayu banyak yang dibuat dari bahan batu karang, baik untuk pembuatan bagian nisan maupun jirat makam. Sebetulnya di daerah Mentok juga tersedia bahan baku batu andesit yang terdapat di Bukit Menumbing dan kayu yang berasal dari beberapa jenis pohon di sekitar Mentok. Akan tetapi bahan batu andesit dan kayu bukan menjadi pilihan utama dalam pembuatan makam di Mentok.

Berdasarkan atas pengamatan di lapangan, ternyata di pantai (Selat Bangka) banyak terdapat batu karang. Lokasi kompleks makam dengan pantai lebih dekat dibanding dengan Bukit Menumbing atau sumber bahan baku kayu. Alasan faktor kedekatan sumber bahan baku dengan lokasi makam rupanya menjadi pertimbangan utama untuk menentukan bahan baku makam di Mentok menggunakan batu karang dibanding batu andesit atau kayu. Batu karang yang banyak terdapat di pantai memudahkan pembuat makam untuk menambangnya dan menggunakannya sebagai bahan baku makam. Untuk menambang batu karang dan memanfaatkannya sebagai bahan baku makam lebih sedikit menyita enegi dibanding jika harus mengambil bahan baku lain di tempat lain yang jauh lebih banyak menguras energi untuk mendapatkannya.

Rupanya batu karang bisa dibentuk menjadi berbagai bentuk sesuai dengan yang dikehendaki si pembuatnya. Terbukti di kompleks makam Bangsawan Melayu terdapat beberapa jirat dan nisan makam yang mempunyai bentuk dan ragam hias tertentu. Jirat makam berbentuk segiempat dengan berbagai variasinya merupakan bentuk yang umum, sedangkan nisan makam secara umum berbentuk tipe Aceh dan tipe Demak-Tralaya dengan berbagai variasinya.

Dengan berkembangnya kedua tipe nisan tersebut dapat diketahui budaya yang mempengaruhinya. Tokoh yang dimakamkan berkaitan erat dengan Palembang, sedangkan berdasarkan tipologinya nisan makam di Palembang banyak mendapat pengaruh Demak dan Aceh. Maka, sangatlah tidak aneh apabila nisan di Mentok banyak mendapat pengaruh dari Palembang. Secara politis Pulau Bangka merupakan bagian dari kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam.

Selanjutnya ragam hias tulisan Arab, tumpal, sulur-suluran, dan garis-garis lengkung terdapat pada makam beberapa tokoh yang dimakamkan di sana. Semakin tinggi kedudukan seorang tokoh, maka ragam hias makamnya semakin raya dibanding dengan tokoh lain yang lebih rendah kedudukannya. Hal ini berlaku umum, bahwa makin raya ragam hias makam seorang tokoh makin tinggi status sosialnya.(Dari Berbagai Sumber) Video Alif

Jam

Dari kami

Tentang ForumbangkabelitungbersatuWatak FB3:Organisasi terbuka utk semua masyarakat Bangka Belitung tanpa membedakan etnis,suku,agama&kedudukan sosial serta percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, berpaham Kebangsaan Indonesia, berjiwa kemasyarakatan yg demokratis&berwawasan global

SEKAPUR SIRIH

Bahwa atas dasar keinginan yang luhur dalam mewujudkan cita-cita para pejuang pembentukan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung terdahulu yang mencurahkan segenap pikiran, tenaga, waktu dan pengorbanan, semakin memerlukan peningkatan keterampilan dan profesionalisme untuk turut serta berpartisipasi secara aktif dalam membangun daerah sendiri demi terwujudnya masyarakat adil, makmur dan sejahtera.

Dengan semangat dan rasa memiliki daerah sendiri memicu beberapa putra-putri daerah dari berbagai profesi yang memiliki integritas dan komitmen yang tinggi untuk tidak sekedar berpangku tangan sehingga lahirlah organisasi kemasyarakatan yang mandiri dan bermartabat, serta salah satu pilar partisipasi masyarakat dalam membantu pemerintah daerah, aparat terkait serta ormas-ormas yang lain dengan menampung aspirasi yang berkembang di masyarakat serumpun sebalai untuk membangun daerah sendiri di segala sektor.

FORUM BANGKA BELITUNG BERSATU (FB3) didirikan sebagai wadah silahturahmi, pemersatu serta rasa kebersamaan dalam menjalankan program-program disegala bidang melalui pemikiran yang rasional, konseptional, kritis, objektif, konstruktif dan inovatif, kredibilitas serta loyalitas yang tinggi

Menyadari sepenuhnya peran serta dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat dengan dilandasi jiwa yang jujur dan ikhlas untuk bersama-sama menjawab setiap bentuk tantangan yang dihadapi oleh masyarakat serta bahu membahu membantu meredam konflik yang terjadi di masyarakat baik yang bersifat vertikal maupun horizontal

Dengan menjunjung tinggi adat istiadat Sepintu Sedulang, mari bersama-sama kita bangun dan pelihara negeri di tanah kelahiran yang kita cintai untuk menyongsong hari depan yang lebih baik sebagai warisan generasi yang akan datang dengan semboyan “ BERSATU…!!! ”

RIWAYAT SINGKAT

Wacana pembentukan organisasi ini pada mulanya tercetus pada pertengahan tahun 2002 oleh beberapa elemen masyarakat yang memiliki kepedulian serta idealisme yang tinggi akan daerah sendiri, kemudian pada bulan April 2003 terbentuklah organisasi dengan nama FORUM PANGKALPINANG BERSATU, yang kapasitasnya hanya berupa forum-forum silaturahmi dan bergerak dibidang sosial kemasyarakatan. Seiring berjalannya waktu organisasi ini memiliki ke anggotaan yang semakin banyak, atas usulan beberapa tokoh atau elemen-elemen masyarakat pangkalpinang agar organisasi ini lebih profesional dan diakui, serta usulan dari daerah-daerah yang ada di Bangka Belitung untuk ikut serta berpartisipasi di dalam organisasi ini maka pada awal tahun 2010 dilakukan beberapa kali musyawarah-musyawarah kecil di Pangkalpinang dan menghasilkan kesepakatan antara lain :

- Mengakomodir saran, usulan dan kepentingan daerah kabupaten-kabupaten yang ada di Prop. Kep. Bangka Belitung

- Memberi nama organisasi yang mencakup seluruh wilayah Prop. Kep. Bangka Belitung

- Membuat Akta Pendirian

- Merevisi pemantapan k epengurusan

- Membuat program kerja jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang

- Dll

Pada tanggal 03 Maret 2010 ditetapkanlah hari jadi “ FORUM BANGKA BELITUNG BERSATU “ disingkat FB3 segala ketentuan organisasi ini termaktub didalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta peraturan-peraturan lain yang tidak bertentangan dengan arah, pola umum serta kebijakan FB3.

ORIENTASI

- Mempererat silahturahmi dan persatuan serta mempertebal semangat rasa memiliki daerah sendiri

- Memajukan kesejahteraan umum unutk menggali, memanfaatkan dan mengelola kekayaan alam yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada Masyarakat Bangka Belitung

- Tersedianya lapangan kerja serta tersalurkannya tenaga terdidik, terampil dan profesional

- Menumbuh kembangkan kesadaran dan rasa tanggung jawab setiap lapisan masyarakat untuk turut berpartisipasi aktif memelihara ketertiban dan keamanan guna lebih menjamin peningkatan keberhasilan pembangunan daerah di Prop. Kep. Bangka belitung

- Meningkatkan keterampilan bakat alamiah agar tersalurkan secara profesional, sehingga bermanfaat untuk dirinya, masyarakat dan negara

- Menanggulangi permasalahan generasi muda terutama dalam penanggulangan masalah yang merusak fisik dan mental, sebagai generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa seperti kenakalan remaja, bahaya narkoba, bahaya HIV AIDS, serta pergaulan bebas

- Menegakkan Prop. Kep. Bangka Belitung sebagai daerah hukum dalam arti daerah yang berdasarkan azas hukum yang berlaku bukan berdasarkan kekuasaan, melainkan memalui pembangunan, peningkatan dan pelaksanaan hukum nasional dalam rangka menciptakan kepastian hukum yang membela kepentingan masyarakat , daerah dan negara.